Hari ini, hari yang indah… Menginjak hari kedua bulan suci Ramadhan…
Alhamdulillah… Begitu besar karuniaNYA pada saya.. Dengan kondisi fisik yang sehat, hati senang, saya berangkat ke kampus…
Hari ini memang seharusnya kami libur, libur akhir semester.. Namun, karena target tugas akhir (TA) yang semakin mendekat, mau tidak mau harus rajin ke kampus, konsultasi ini, konsultasi itu….
Seperti rutinitas sehari-hari, saya mulai mengerjakan bahan untuk konsultasi di base camp (tepatnya, ruangan yang dengan ‘paksa’ kami jadikan basecamp). Kami sebut tempat itu PHC (Pre Hospital Care), yang artinya, kalau ada orang sakit, mahasiswa, karyawan, di sekitar kampus kami, di PHC inilah penanganan awal tersebut dilakukan. Sebagai mahasiswa yang terproyeksi menjadi tenaga kesehatan, menjadi pelayan masyarakat, tempat ini sangat tepat untuk kami berlatih menghadapi dan menangani pasien (baca: karena fasilitas AC, TV, internetnya juga lengkap, jadi semakin betah, haha)..
Hari ini, saya menjadi satu-satunya penguasa PHC.. Maklum lah, libur-libur begini, teman-teman agak malas kalo harus pagi-pagi ke kampus.. Apalagi puasa-puasa gini…
Saya sibuk mengedit tulisan saya sendiri di layar komputer, sampai saya dikagetkan dengan kedatangan beberapa orang..
Salah satunya familiar dengan saya, Beliau karyawan di kampus kami.. Beliau datang dengan tergesa-gesa menggendong seorang anak laki-laki. Dan di belakangnya ada seorang bapak-bapak yang dengan tertatih-tatih mengikuti karyawan itu. Mas karyawan menyerahkan anak yang digendongnya pada saya, sambil berkata dengan panik, “ Tolong ya Mbak..”
Saya pun menggendong anak itu dan membawanya masuk PHC.. Bukan main kagetnya, saya melihat wajah anak itu penuh dengan luka abrasi di seluruh wajah dan tangannya.. Darahnya memang tidak menetes tapi menempel diseluruh luka dan wajahnya. Bapaknya pun tidak kalah banyak lukanya. Ada luka abrasi sepanjang 15 cm di kakinya dan banyak luka lainnya di tangannya. Namun, beliau mengisyaratkan bahwa segera tangani putranya saja.. Karena saya dalam posisi sendiri disana, sayapun mengutamakan penanganan pada anak itu..
Nama anak itu Gilang, dia duduk di kelas 2 SD… Saya coba bertanya pada Gilang supaya dia rileks dan sedikit lupa pada sakitnya. Saya mengajak ngobrol tentang ini itu, tentang bagaimana prestasi di sekolahnya, tentang cita-citanya, tentang semua yang terlintas dipikiran saya…
Ada sesuatu yang menarik Teman.. bukan tentang CV Gilang yang terus coba saya korek sebagai bahan pembicaraan.. Tapi tentang sesuatu yang saya saksikan. Luka abrasi sakitnya bukan main, karena banyak ujung saraf yang terluka, begitu kata dosen saya ketika kuliah tentang perawatan luka. Kita pun pasti pernah merasakan ganasnya perih karena luka abrasi… Belum lagi saya temukan dua benjolan sebesar telur asin dan telur puyuh di kepala Gilang, hasil dari benturan yang begitu keras..
Gilang, yang berumur baru 7 tahun dengan luka FULL di wajahnya dan sebagian tangannya, sekali lagi Teman, FULL di wajah, penuh darah, dan dua benjolan disana.. Dia tidak merengek, tidak mengeluh, tidak berteriak, tidak sama sekali… Wajahnya yang kecil hanya menunjukkan sedikit kerutan pertanda Ia kesakitan, Gilangpun selalu menjawab pertanyaan saya dengan begitu tenang.. Ketika saya bersihkan luka-lukanya, Ia sangat tenang, sangat tenang.. Hanya terkadang saya melihat butiran bening jatuh dari mata kanannya yang terpejam. Dua sampai tiga tetes saja. Tapi Gilang tetap diam, tanpa keluhan. Ketika saya Tanya, “ Sakit ya Gilang??”.. Dia menjawab dengan lembut dan tergetar “ Iya..”. Hati saya tersentuh dengan anak ini. Bagaimana mungkin seorang anak yang berumur 7 tahun bisa begitu sabar dan tabah. Pun dia tidak dalam keadaan terpaksa. Tidak ada orang yang memelototinya supaya Ia tenang, tidak ada yang mengancamnya supaya dia sabar, tidak ada, Teman.. Sungguh tidak ada…
Setelah saya menangani Gilang dan Bapaknya, Saya menerawang.. Akankah saya kelak dapat mendidik anak sebaik seperti Bapak ini. Menjadikan anak saya sebaik Gilang..
Karena memang menjadi orang tua itu bukan perkara mudah, Teman.. Sungguh, meski saya belum pernah menjadi orang tua, namun saya sadar betapa berat jalan yang ditempuh para orang tua dalam mendidik putra-putrinya. Begitu banyak pilihan yang harus dipilih dengan konsekuensinya masing-masing. Setiap saat harus mencari dan memilih yang terbaik bagi putra-putrinya…
Sedikit kisah yang lainnya tentang orang tua dan anak….
Beberapa minggu yang lalu saya membantu universitas untuk menjadi tim kesehatan di acara PK2 (Pengenalan Kehidupan Kampus) atau OSPEK, bahasa kerennya..
OSPEK berjalan 4 hari, hari kedua saya ditempatkan di salah satu fakultas bersama dengan satu rekan saya. Sebut saja Fakultas itu adalah Fakultas X. Fakultas ini bukan tempat saya biasa kuliah, dan termasuk Fakultas yang asing bagi Saya..
Saya datang kesana pukul 6 dan begitu banyak pasien yang sudah ‘stand by’ di ruang kesehatan. Saat itu, rekan saya izin untuk datang terlambat. Jadi saya mencoba sebisa mungkin menangani pasien-pasien itu sendiri…
Alhamdulillah, meskipun jumlahnya banyak, namun rata-rata hanya memiliki keluhan-keluhan ringan khas OSPEK yang memang memaksa mahasiswa baru masuk dalam kondisi stress fisik dan stress mental…
Ada seorang pasien laki-laki, sebut saja namanya Abe (benar2 bukan nama sebenarnya loh..). Abe adalah mahasiswa baru, jadi saya perkirakan umurnya mungkin 17-18 tahun. Awal saya datang, Abe yang paling menarik perhatian Saya. Kenapa?? Bukan karena dia ganteng atau semacamnya.. Bukan…
Saat saya datang, suara Abe menggema di seluruh ruang kesehatan. Ia berteriak sekuat tenaga, menangis tersedu-sedu. Benar-benar histeris, yang awalnya saya tidak mengerti kenapa sebabnya. Panitia di fakultas itu pun bingung bukan kepalang, mencoba sebaik mungkin menangani Abe. Ada yang mencoba menenangkan dengan kata-kata lembut dan memotivasi, ada yang pencet kaki dan tangannya, ada yang menepuk-nepuk punggungnya, pokoknya all out..
Saya pun menghampirinya, Ia tetap histeris, semakin banyak orang mendekatinya, semakin dahsyat teriakannya.. Dengan berbekal sedikit pengetahuan dan niat ingin menolong, saya mendekati Abe. Di tengah kebingungan, saya coba untuk memeriksa vital sign (sesuatu yang sering diingatkan oleh senior supaya kami selalu mengerjakannya dan tidak terfokus pada sakitnya dulu). Menurut pemeriksaan saya, semuanya masih dalam batas normal. Saya pun bertanya, “Mas, yang mana yang sakit?”..
Tetap saja tidak ada jawaban, Abe tetap saja menangis, menangis, dan berteriak…. Saya coba menenangkannya, namun sepertinya tidak ada hasil, sayapun pergi dan mencoba menangani pasien yang lainnya, yang siapa tahu dalam diam menyimpan sakit yang harus segera ditangani…
Saya tinggalkan Abe bersama panitia fakultas itu yang masih berusaha untuk menenangkannya…
Setelah saya selesai menangani semua pasien… Suara Abe masih menggelegar…
Saya mendatanginya lagi, akhirnya dengan sedikit jurus paksaan dan ancaman, Abe mulai berkata tentang keluhannya dengan terbata-bata dan dengan suara sesegukan yang lebih terdengar ketimbang kata-katanya.... Abe mengeluhkan kaku di bagian kaki dan tangannya. Benar saja, sekarang kaki dan tangannya kaku.. Dia semakin berteriak…
Saya mulai mengeluarkan ‘jurus mengobrol’ saya.. Saya bertanya pada Abe tentang kehidupannya.. Abe pun bercerita tentang bagaimana kehidupannya, tentang kota asalnya, tentang orang tuanya, tentang masa SMA yang indah, tentang biaya ospek yang mahal.. Meski tetap dengan sesegukan yang khas, paling tidak Abe sudah mulai rileks.. Terkadang Ia menjerit lagi karena kaki dan tangannya semakin kaku..
Saya mencoba menarik kesimpulan, bahwa Abe mengalami stress sampai histeris dan histerianya itu menyebabkan kaku pada tangan dan kakinya. Sepenggal ingatan saat kuliah neuro….
Saya berkata pada Abe, “ Mas, tenang ya.. Kalau Mas tidak tenang akan semakin terasa kaku dan sakit. Mas percaya sama saya, kuncinya cuma tenang…”
Apakah Abe tenang dengan kata-kata mutiara saya? Tentu tidak saudara-saudara…
Saya putar otak, Abe ini benar-benar harus ditenangkan…
Saya terpikir cara-cara untuk membuat dia tenang…Membiusnya, pukul dari belakang supaya pingsan, atau dipulangkan saja.. Hm…saya benar-benar bingung….>.<
Tentu saya tidak berpikir sejahat itu kok Teman, setidaknya saat itu, hehe..
Saya terpikir bahwa Abe harus merasa aman dan diperhatikan. Saya ambil satu tablet vitamin dari kotak persediaan obat, lalu saya datangi lagi Abe. Saya berkata padanya dengan gaya meyakinkan, “ Mas, ini obatnya biar ngga kaku lagi, setelah minum obat ini, Mas Abe harus rileks lalu tidur saja. Saya janji, bangun tidur, Mas Abe akan sembuh, tangan kakinya pasti bisa digerakkan lagi. Saya janji..”
Abe akhirnya menenggak obat itu sambil terus menangis dan sesegukkan, saya minta pada panitia untuk meninggalkan Abe. Alhamdulillah, 10 menit setelah kami tinggalkan, suara Abe mulai meredup dan beberapa menit kemudian Abe benar-benar tenang dan tertidur…
Saya pun merenung, seumur hidup saya tidak pernah melihat seorang laki-laki yang begitu histeris dan menangis seperti itu..
Bagaimana orang tua Abe mengajarinya, apakah orang tuanya tidak menyayangi putranya sehingga Abe tumbuh menjadi seorang laki-laki dengan daya juang rendah??
Tentu saja tidak, bahkan orang tuanya mungkin sangat sangat sayang padanya, mengingat Abe adalah satu-satunya laki-laki di keluarganya, bungsu pula (ini hasil dari jurus mengobrol saya)..
Belum habis renungan Saya, datang seorang mahasiswa perempuan yang mengeluhkan nyeri di perutnya. Dia berkata, sudah 2 hari tidak makan..
Wah, pikir saya, dahsyat banget ni fakultas, perlengkapan OSPEKnya mahal, sampai mahasiswa barunya kehabisan uang…
Saya coba dekati mahasiswa ini, sambil melakukan pemeriksaan, dan melakukan jurus saya…
Kali ini sebut saja namanya Nana (asli bukan namanya dan bukan nama aslinya).. Nana bilang berasal dari pulau yang berbentuk K di seberang Jawa..
Setelah pemeriksaan, saya simpulkan Nana terkena gastritis akut atau biasa orang bilang sakit maag…
Saya ambilkan air dan obat untuk Nana, saya bilang, “ Setelah minum obat ini, kamu istirahat trus Kita makan sama-sama, setelah itu sakitnya akan hilang..”
Nana menolak minum obat, namun saya coba mengeluarkan jurus rayuan tingkat tujuh agar Nana mau minum obat. Obat itu masuk mulut Nana. Dalam 2 detik obat itu dikeluarkan begitu saja sebelum sempat ditelan. Begitu terjadi sampai 2X.. Nana mulai menangis namun dengan volume yang dapat ditolerir. Panitia dibuat kalang kabut olehnya..
Saya pun mencoba meminta Ia untuk makan, tapi lagi-lagi dia menolak….
Begitu banyak gombalan dan rayuan untuk Nana, tapi tidak ada yang berhasil…
Sayapun akhirnya meninggalkan Nana karena kembali disibukkan dengan pasien-pasien lain, yang datang-pergi silih berganti…
Kemudian salah satu panitia mendatangi saya, “ Mbak, bagaimana tu si Nana, kalau dia pingsan bisa berabe, ngga ada yang kuat ngangkatnya…”
Weleh….
Saya mendatangi lagi Nana yang sudah pindah ruangan dan dikelilingi sekitar 7 orang panitia..
Nana menangis, setiap ditanya, Ia menjawab “ Aku mau Mama.. Aku mau pulang… Aku mau ketemu Mama..”
Kata panitia, “Nana ngga mau disini Mbak, minta dirujuk ke rumah sakit saja…”
APA?? Saya tambah bingung….
Ditengah kebingungan.. Saya menyimpulkan diagnosis : Homesick tingkat tinggi dengan kadar kemanjaan melampaui batas normal..(jahat ya..)
Lanjut…
Saya sedikit tidak sabar menghadapinya, lalu saya mulai berorasi tentang bagaimana kami yang disini : saya, dia, dan semuanya adalah orang-orang beruntung yang diberi kesempatan menuntut ilmu di Universitas Brawijaya.. Dimana ribuan remaja lain harus melapangkan dada karena jatah kursi yang ada sudah ditempati oleh kami-kami yang ada disini..
Ribuan remaja lain, yah puluhan ribu lainnya bahkan mungkin tidak dapat mengenyam pendidikan seperti kami karena biaya, karena mereka harus berjuang melawan kelaparan dan terror kemiskinan di keluarganya..
Dengan berapi-api saya ingatkan lagi betapa Mamanya juga sedih harus berpisah dengan Nana.. Berpisah beratus kilometer, dipisahkan oleh samudra.. Namun disini putrinya, harapannya, hanya dapat menangisi nasib dan menyiksa diri..
Saya sadarkan Nana bahwa begitu banyak teman seperjuangan yang juga jauh dari orang tuanya.. Bahkan lebih jauh dari yang Ia bayangkan.. Ia tidak sendiri disini..
Saya mengultimatum Nana, “ Kamu sakit karena dirimu sendiri, kamu menyiksa diri dengan tidak mau makan dan tidak mau minum obat, meski saya rujuk Kamu ke professor atau dokter spesialis, kalau Kamu terus menyiksa diri seperti ini, Kamu tidak mungkin akan sembuh..”
“ Sekarang Kamu minum obat ini, saya tau kamu bisa, Kamu bukan tidak bisa tapi Kamu tidak mau. Demi Mamamu Kamu harus minum dan sembuh…”
Tablet berwarna kuning itu akhirnya dapat masuk ke mulut Nana dan kali ini Ia menelannya.. Ada perasaan sedikit lega dalam diri saya..
Saya minta panitia mendekatinya, mengajak ngobrol, dan mengajaknya makan bersama… Menghilangkan ketakutan Nana di kota perantauan…
Saya sendiri bersama rekan saya (yang akhirnya datang) kembali disibukkan dengan tandu-tandu berisi mahasiswa yang tidak sadar (pingsan, red) berdatangan…
Ketika saya kembali melihat keadaan Nana, ternyata Ia semakin parah.. Bukan nyeri perutnya, tapi homesick syndromenya.. Rupanya panitia pun sudah hilang kesabarannya, menghadapi mahasiswa yang satu ini.. Dia merengek terus-terusan, berguling ke kanan, ke kiri seperti balita namun dalam usia dan ukuran yang jauh lebih besar…
Saya minta panitia untuk meninggalkan Ia sendiri, agar Ia dapat merenung..
Benar saja, akhirnya Nana pun lelah dan Ia bangkit dari acara ‘berguling-gulingnya’.. Nana minta kembali ke ruangan tempat acara OSPEK berlangsung..
Dalam hati saya menyesal tidak dapat menolongnya dengan lebih sabar.. Mungkin Ia kembali dengan berbagai perasaan tidak puas dan mungkin semakin sedih. Namun biarlah saya yang keras padanya dan semoga dunia dapat lembut kepadanya..
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Saya kembali ke renungan saya… Hari ini..
Saya melihat Gilang, saya mengingat lagi Abe dan Nana…
Satu berumur tujuh tahun.. Dua lainnya berumur tujuh belas atau lebih..
Satu dengan kedewasaan yang mengagumkan, dua lainnya……….
Sungguh bertolak belakang…
Apa yang membuat mereka beda?? apakah kasih sayang??
Saya rasa bukan itu jawabannya, karena saya yakin semua orang tua mereka menyayangi putra-putrinya, hanya saja dengan cara yang berbeda.. Memang butuh sebuah penjelasan yang lebih panjang dan kompleks untuk itu..
Yang ingin saya ingatkan, bahwa menjadi orang tua itu tidak mudah..
Tidak cukup hanya sekedar rasa sayang.. Butuh lebih dari itu…
Terkadang ada yang merasa, bahwa orang tua terlalu mengekang saya.. Terlalu membatasi saya..
Orang tua saya tidak care pada saya..
Orang tua saya pelit sama saya atau orang tua saya selalu membanjiri saya dengan materi tanpa kasih sayang…
Yakinlah sahabatku, orang tua kita selalu berusaha memilih jalan yang terbaik bagi putra-putrinya.. Dan sekali lagi itu tidak mudah..
Ketika orang tua memilih memberi kebebasan pada anak, agar anak merasa merdeka dan dapat berkreasi dengan baik, namun mungkin saja anak menjadi tidak terkontrol dan terjerumus dalam pergaulan yang tidak-tidak..
Ketika orang tua mengekang anak, dengan memberi batasan ini itu, agar anak tetap pada jalur yang baik dan terlindungi orang tua, mungkin saja anak akan merasa terpenjara dan memiliki keinginan untuk berontak yang lebih besar pada orang tua…
Apa yang bisa kita lakukan, bukanlah menyalahkan Ibu yang melahirkan kita, bukan juga menyalahkan Ayah yang membanting tulang untuk kita..
Kita sudah dewasa, komunikasikan dengan baik pada orang tua, pasti beliau lebih mudah mengerti…
Dan yang paling penting, Kita sudah dewasa…
Kita juga akan segera menjadi orang tua, banyak belajar dan mohon pertolongan ALLAH, agar dapat menjadi orang tua yang baik…