BLOGGER TEMPLATES AND Twitter Backgrounds »

Sabtu, 14 Agustus 2010

..Mamaku yang aneh, Papaku tukang bohong..

Dari judulnya tersirat bahwa saya memiliki orang tua yang tidak baik, atau malah saya adalah anak yang tidak baik, berani-beraninya menghujat orang tua sendiri dan mengabadikannya dalam sebuah tulisan..

Tapi tidak Teman.. bukan seperti itu yang ada dalam hati saya…

Orang tua saya termasuk orang tua yang luar biasa, maksud saya di luar biasanya..


Dalam bioskop, sinetron, sekitar Kita.. Tokoh Ibu selalu identik dengan seorang yang lembut, pandai memasak, dan selalu menjaga putra putrinya ke jalan yang benar..

Tapi tidak demikian dengan Mama saya..

Mama saya sangat berkebalikan dengan paradigma Ibu pada umumnya..

Beliau seorang yang tegas dan keras dalam mendidik kami putrinya..

Mama saya pun sama sekali tidak bisa memasak, keahlian Beliau adalah masak air (menurut pengakuan Beliau sendiri loh..)

Namun di mata saya dan di mata semua orang, Beliau adalah seorang yang cantik, sangat cantik..

Seorang yang sangat pintar, begitu cerdas..

Sebagai anak, saya rasa wajah dan kemampuan saya sangat jauh dibandingkan Mama..

Untuk itu saya selalu berusaha untuk sebaik bahkan lebih baik dari Mama..

Karena wajah ini sudah tidak mungkin diubah, jadi saya berusaha untuk belajar agar saya secerdas dan sepintar Mama..


Ibu pada umumnya, ketika melihat putrinya nonton TV, terlalu banyak bermain, pasti akan berkata :

“ Nduk, mbok belajar..Biar nilai-nilaimu naik..”

Sementara Mama saya…

Pukul 19.30 waktu itu, saat saya akan menghadapi ujian akhir semester kelas 2 SMA..

Mama yang bekerja di luar kota khusus menelpon saya :

Mama (M) : Kak, lagi apa??

Saya (S) : Lagi blajar Mam, besok ujian..

M : Alaa.. Kamu kebanyakan belajar, uda nonton TV aja, lihat Indosiar tu, lucu banget acaranya, nonton yaaaa…

S : mimisan

20 menit lagi, telepon kembali berdering…

M : Gimana Kak, bagus acaranya?? Kamu jagoin sapa ni??

S : (Mama lagi ngetes ni, aku beneran nonton atau ngga)


Ibu pada umumnya, ketika melihat angka merah pada nilai ulangan putrinya :

“ Nduk, ya pa to Kamu…makannya belajar, jangan banyak tidur…!”


Sementara Mama saya..

Ketika itu, saya ujian matematika kelas 3 SMA, bab ini benar-benar berat untuk saya. Selama ini nilai matematika saya tidak pernah kurang dari 85. Namun di bab ini, nilai saya terjun bebas menjadi 55 !!

S : (dengan lemas dan berkaca-kaca), gimana ni Mam, dapat segini, padahal sepertiga kelas dapat nilai 100…

M : Wah, ayo makan-makan.. Syukuran ni.. Kakak dapat nilai 55 !!

S : Sekali lagi mimisan (-.-);


Ibu pada umumnya akan membuatkan teh hangat dan menggorengkan pisang sebagai teman putrinya begadang untuk belajar..


Namun Mama saya…

Saat itu saya menghadapi ujian akhir semester 2…

M : Begadang lagi Kak?

S : Iya Mam, besok materinya agak berat, sksnya juga besar…

M : Uda, kamu tidur aja, ngga usah ngotot.. Kemarin2 kan uda belajar, besok tinggal ngelogika aja.. Tidur ya..

S : Tapi Mam.. Tinggal dikit ni..

M : TIDUR !!

(cklek! Lampu dimatikan)

S : Tanpa daya, akhirnya tidur tanpa dosa sampai pagi..

……………………………………………………………………………………………

Kalau di luaran, dalam sinetron, atau film-film lainnya, tokoh Ayah selalu diperankan oleh seorang yang berwatak keras, tegas, bahkan tidak jarang seorang yang temperamen, hobi membentak juga memukul..

Sementara Papa saya…

Sang golden heart, pemilik kesabaran nomor wahid sejauh yang saya ketahui..

Tutur kata Beliau begitu lembut dan menenangkan..

Tapi Beliau memiliki kebiasaan bohong, seringnya membohongi Mama, tapi tidak jarang membohongi kami, putrinya..


Saat makan bersama…

Ayah pada umumnya akan minta dilayani istri dan putrinya untuk mengambilkan makanannya. Pasti akan menuntut yang terbaik diberikan kepadanya, sang pencari nafkah..

Namun.. Papa saya..

Papa selalu hafal dengan kesukaan dan ketidaksukaan Mama, saya, dan adik saya…

Setiap disana ada lauk atau sayur kesukaan kami…

Papa tidak pernah mengambilnya..

Saat kami mempersilahkan beliau untuk mengambilnya..

Papa selalu menolak, “ Sudahlah, kamu makan aja. Papa ngga suka yang itu, Papa suka yang ini..”

Kami bertiga pun makan dengan lahapnya..

Setelah kami menghela nafas karena kekenyangan dan beranjak meninggalkan tempat makan..

Papa mulai mengambil sisa-sisa lauk kesukaan kami dan dengan santai bertanya, “ Kok ngga dihabisin, Papa habisin ya??”

Kami hanya bisa mengangguk lemah, merasa bersalah..

Kebohongan itu Papa lakukan hampir setiap kali kami makan bersama…


Suatu ketika, Papa saya terpeleset saat membersihkan gorong-gorong. Lukanya begitu banyak di bagian tangan Beliau dan begitu lebar di kaki kanan Beliau..

Kami putrinya, yang lama tidak bertemu Papa, kontan saja kaget melihat Papa yang babak belur seperti itu. Memang, karena Mama & Papa bekerja di luar kota, frekuensi kami bertemu sangat sedikit..

Saat kami datang, Papa kembali sibuk berkebun, merapikan taman kami..

Ketika saya tanya, “ Pa, berhenti dulu, ngga sakit ta?”

Papa memasang mimik wajah lucu dan menggeleng sambil tersenyum…

Besoknya Papa demam tinggi, kata Mama kemungkinan karena infeksi di lukanya..

Lagi-lagi Papa bohong sama kami…….


Waktu saya mendapat cobaan, harus sakit dan akhirnya lumpuh selama 40 hari..

Papa…

Dengan usia selanjut itu, selalu ada..

Menggendong saya waktu masuk kelas di kampus..

Menggendong saya ke kamar mandi..

Menggendong saya ke mobil..

Menggendong saya keluar untuk melihat pemandangan..

Menggendong saya kemana saya inginkan..


“Pa, berat ya?” kata saya yang bahkan saya sudah tau jawabannya bahwa saya memang sudah besar dan pasti berat.. sangat berat..

Papa lagi-lagi tersenyum dan berkata, “ Dulu kamu juga sering Papa gendongin kok, gak masalah, Papa Samson, jagoan..!”

Papa selalu menunjukkan wajah yang sumringah

Di balik wajah Papa, saya tau Papa kadang nyengir kesakitan, tapi saya hanya kurang memperhatikan..

Baru sekarang, setelah lama saya sembuh, Saya baru sadar, punggung Papa yang sering sakit itu karena ulah Saya dulu…


Teman.. Saya sadar.. Mama dan Papa saya adalah seorang yang luar biasa, sungguh, luar biasa…

Saya sungguh bersyukur memiliki Ibu seperti Mama, yang dengan ketegasannya menyayangi saya, dengan leluconnya menguatkan saya, dengan marahnya membimbing saya, dengan keanehannya melindungi saya…I LoVe U Mam…

Saya juga bersyukur memiliki Ayah seperti Papa… Dengan kesabaran nomor satu, selalu menjadi teladan bagi saya.. Dengan kebohongan-kebohongannya mengajari saya arti pengorbanan kepada yang tersayang.. Dengan kebesaran hatinya mengajarkan saya ikhlas dan tabah… I LoVe U Pap…


0 komentar: